What is Sufism? (Review)

What is Sufism, karya Martin Lings.

Fenomena agama memang perlu didekati secara multi-dimensional approaches[1]. Demikian halnya dengan Islam sebagai salah satu agama di dunia ajarannya pun bersifat multidimensional contents. Sehingga dalam memahami Islam sangat diperlukan pendekatan yang tepat, agar pemahaman yang komperehensif tentang Islam dapat dicapai.

Tidak hanya urusan ukhrowi saja yang menjadi perhatian Islam, akan tetapi berbagai permasalahan hidup terutama yang berhubungan dengan permasalahan sosial. Karena memang pada dasarnya al-Qur’an memberikan proporsi yang begitu besar terhadap permasalahan ini. Sebagaimana kesimpulan hasil penelitian Fazlur Rahman[2] terhadap al-Qur’an, bahwa pertama, dalam al-Qur’an dan kitab-kitab hadits proporsi terbesar ditujukan pada urusan sosial. Kedua, dalam kenyataan bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan mu’amalah yang pentin, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan). Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kafarat-nya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.

Stabilitas sosial yang dikedepankan, penghargaan dan jaminan atas hak-hak asasi manusia, kehidupan yang dinamis dan progresif, seimbang, egaliter, demokratis, cinta akan kebenaran, terbentuknya masyarakat yang mutamaddin (berperadaban) dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan implikasi dari risalah Nabi saw. sebagai penyempurna akhlak, sekaligus sebagai pembawa rahmat bagi seluruh semesta (rahmatan li al-‘alamin).

Tasawuf, sebagai salah satu bidang studi Islam yang menarik untuk dipahami. Karena dalam tasawuf diajarkan bagaimana memahami dan mengenal diri lebih dalam melalui pendekatan dan pengenalan pada rabbul ‘alamin, Allah swt. Sehingga akan menimbulkan rasa takut (khouf) yang akan berimplikasi pada pembentukan akhlak mulia. Karena inti dari tasawuf adalah pembentukan kualitas manusia yang sempurna, yang berorientasi pada pembentukan akhlak mulia sehingga manusia menjadi khalifah fil ardl yang mampu menjaga keseimbangan alam ini.

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan buku tentang kajian tasawuf dari karya Martin Lings yang berjudul “What is Sufism?” yang dialihbahasakan oleh Achmad Maimun ke dalam bahasa Indonesia yang berjudul “Ada Apa Dengan Sufi?”.

Dalam makalah ini, pertama, akan dideskripsikan tentang teori pendekatan studi Islam terutama pendekatan tasawuf. Kedua, deskripsi pengertian tasawuf. Ketiga, deskripsi pemikiran Martin Lings tentang tasawuf dalam buku “What is Sufism?”.

Demi perbaikan makalah ini, saran dan masukan konstruktif dari pembaca sangat diharapkan. Karena tidak mungkin makalah ini ‘bersih’ dari kekurangan dan kelemahan baik dalam penulisan maupun pemikiran.

Pendekatan Tasawuf Martin Lings Dalam What is Sufism?

  1. 1. Tasawuf Sebagai Salah Satu Pendekatan Studi Islam

Pendekatan sebagaimana diformulasikan oleh Abudin Nata adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama[3]. Sedangkan pendekatan tasawuf adalah bagian dari pendekatan teologi Islam.

Selanjutnya Frank Whaling[4] memaparkan bahwa pada tingkat yang memungkinkan untuk diteliti, model ini memiliki delapan elemen yang dapat dipisahkan berdasar tujuan analisis tetapi membentuk suatu continum dalam pengalaman orang-orang yang hidup dalam tradisi yang sedang diteliti. Kedelapan elemen itu bukan dalam urutan prioritas. Bahkan, prioritas itu berbeda-beda antara masing-masing tradisi. Masing-masing tradisi memiliki delapan elemen tetapi memberi penekanan yang berbeda terhadap masing-masing elemen.

  1. Komunitas setiap tradisi memiliki suatu komunitas keagamaan (gereja, ummah, sangha, dan lain-lain) yang memiliki beragam cabang dan yang membawa umat beriman ke dalam konteks global.
  2. Ritual yang dapat dipahami dalam tiga aspek: penyembahan yang terus-menerus, sakramen, dan upacara-upacara.
  3. Etika: seluruh tradisi memiliki keinginan mengkonseptualisasikan dan membimbing ke arah kehidupan yang baik, dan semua menyepakati persoalan-persoalan dasar seperti keharusan menghindari kebohongan, mencuri, pem-bunuhan, membawa aib keluarga, dan mengingkari cinta.
  4. Keterlibatan sosial dan politis: komunitas-komunitas keagamaan merasa perlu terlibat dalam masyarakat yan lebih luas untuk mempengaruhi, mereformasi, atau beradaptasi dengan kecuali jika agama dan masyarakat saling terpisah seperti dalam agama-agama primal.
  5. Kitab suci, termasuk mite atau sejarah suci dalam kitab suci atau tradisi oral yang dengannya masyarakat hidup, dengan mengenyampingkan agama-agama primal, kebanyakan tradisi memiliki kitab-kitab sebagai suatu canon (peraturan-peraturan).
  6. Konsep atau doktrin: tradisi Kristen dengan gagasannya tentang ortodoksi doktrinal lebih menekankan pada konsep dan teologi dibanding lainnya, namun seluruh tradisi memiliki sejumlah konsep yang sangat penting bagi mereka.
  7. Estetika: dalam tingkat akar rumput di sepanjang sejarah, estetika merupakan hal signifikan, meski dalam masyarakat yang tidak dapat membaca.
  8. Spiritualitas yang menekankan sisi dalam (batin) dari agama: beberapa orang menyatakan bahwa seluruh spiritualitas pada dasarnya sama, sebagian lainnya menyatakan bahwa ia berbeda menurut tradisi atau menurut struktur dasar.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan teologi memiliki wilayah kajian yang cukup luas. Yang meliputi, komunitas, ritual, etika, sosio-politik, kitab suci, doktrin, estetika, dan spiritualitas. Tasawuf sendiri sebagai suatu pendekatan meliputi beberapa aspek tersebut. Karena tidak mungkin tasawuf muncul dari komunitas sosial tanpa melalui proses sejarah sosio-politik suatu masa.

Dari sekian pendekatan yang digunakan untuk memahami Islam, masing-masing memiliki titik berat wilayah kajian yang menjadi obyek atau sasaran yang lebih mendalam. Sehingga yang membedakan antara teori pendekatan tasawuf dengan teori-teori lainnya adalah[5] karena ia lebih menekankan persepsi imajinal daripada pengkajian rasional. Kita juga bisa mengatakan bahwa yang membedakan pendekatan sufi pada keimanan Islam adalah titik beratnya pada ma’rifah—pengetahuan langsung tentang diri dan Allah yang memancar dengan leluasa dari hati yang telah tersucikan.

  1. 2. Pengertian Tasawuf

Pada dasarnya untuk memaparkan pengertian tasawuf amatlah sulit, karena para intelektual muslim maupun non muslim dalam merumuskan pengertian tasawuf menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda. Sebagaimana diungkapkan William C. Chittick bahwa dalam teks-teks Islam, tidak ada kata sepakat mengenai arti sufi, dan para penulis umumnya berbeda pendapat tentang makna maupun legitimasinya[6]. Perbedaan tersebut berada pada perbedaan tinjauan, yaitu dari sudut cara, pakaian, dan hasil serta hubungan antara Khalik dan makhluk[7]. Namun meski demikian, berikut ini akan dipaparkan beberapa pengertian tasawuf.

Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan jiwa, berikut sifat-sifatnya yang tercela maupun terpuji[8]. Sedangkan menurut al-Ghazali adalah ilmu yang menjelaskan tentang doktrin-doktrin tertentu untuk mengukur tingkat kebaikan hati dan seluruh anggota tubuh[9].

Amin Syukur & Masyharuddin memformulasikan tasawuf sebagai suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadhah-mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya. Oleh karena itu, maka al-Suhrawrdi mengatakan bahwa semua tindakan (al-ahwal) yang mulia adalah tasawuf[10].

  1. 3. Deskripsi Buku “Ada Apa Dengan Sufi? (What is Sufism?)”

Buku What is Sufism adalah salah satu dari karya Martin Lings[11] yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di antara bukunya yang terkenal yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “Muhammad” [12] yang menceritakan kisah hidup Nabi Saw.

Dalam What is Sufism, Martin Lings membahas tentang aspek-aspek dan karakteristik tasawuf, yang meliputi; orisinilitas tasawuf, universalitas tasawuf, kitab suci, Rasul, hati, doktrin, metode, eksklusifitas tasawuf, dan terakhir tentang tasawuf yang bersifat sepanjang masa.

Orisinilitas Tasawuf[13]

Muhyid Din Ibn ‘Arabi melantunkan do’a yang diawali dengan: “Tenggelamkan daku ya Rabbi, pada kedalaman samudera-Mu yang tak bertepi”. Dari kata “samudera” ini Martin Lings mencoba menjawab tentang sufi.

Wahyu Allah terus turun dari waktu ke waktu, hanya saja bentuk substansinya yang berbeda. Wahyu hanya diturunkan kepada para nabi dan rasul, sedangkan ilham, hidayah selalu dia curahkan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Wahyu digambarkan sebagai gelombang pasang yang mengalir dari waktu ke waktu dari “Samudera Yang Tak Bertepi” menuju pantai-pantai dunia yang terbatas, mengalir menuju jiwa-jiwa manusia yang serba terbatas, serba kekurangan dan fana. Gelombang Yang Tak Kenal Pasang ini mengalir melalui al-Qur’an yang terus menerus dibaca setiap saat, setiap waktu, setiap jam, menit dan waktu. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan pada malam yang “lebih baik dari seribu bulan[14]”.

Bagi jiwa-jiwa (para sufi) yang mampu memahami akan makna substansi dari Gelombang Yang Tak Kenal Pasang, jiwa mereka selama masih hidup masih terkungkung oleh raga mereka. Mereka juga memahami akan pentingnya raga mereka sebagai sarana untuk menjalani aktifitas di dunia yang penuh batas ini. Namun dengan kelebihan jiwa mereka, mereka mampu berkomunikasi dengan Tuhan melalui ritual-ritual sufi mereka.

Jiwa-jiwa manusia ibarat sebuah kebun yang penuh dengan bibit-bibit. Di antara sekian bibit itu terdapat bibit-bibit unggul yang akar-akarnya mampu menembus dasar wadah tempat bibit unggul ini tumbuh. Jiwa-jiwa ini adalah jiwa para sufi, para mistisme Islam.

Tasawuf tidak lain adalah mistisme Islam[15], yang memuat wahyu Islam. Dari sinilah tasawuf oleh Martin Lings disebut orisinil. Tapi seiring berjalannya waktu, tasawuf juga mengambil pola dan cara yang sesuai dengan kebutuhan per-kembangannya.

Universalitas Tasawuf

Di sini Martin Lings berpendapat bahwa tasawuf bersifat universal, meskipun sebenarnya universalitas berangkat dari partikularitas (kekhasan), karena partikularitas sepenuhnya cocok dengan universalitas. Sebagai contoh seni Islam, segera bisa dikenal lantaran kelainannya dengan seni sakral lainnya. Namun pada dasarnya semua bentuk seni sakral berasal dari keindahan, keindahan Yang Maha Indah (al-Badi’).

Tasawuf adalah partikular dari mistisme Islam, yang orisinil muncul dari Islam. Tasawuf berbeda dari bentuk manifestasi mistisme-mistisme lain. Sehingga dapat dikatakan tasawuf bersifat partikular. Tujuan dan muara tasawuf adalah kewalian (sainthood)[16], dan seluruh seni sakral merupakan kristalisasi kesucian, seperti halnya seorang wali yang merupakan inkarnasi suatu monumen suci. Keduanya merupakan manifestasi dari kesempurnaan ilahi. Ibarat sebuah roda dengan jari-jari yang ujungnya berpusat pada tengah roda, tasawuf merupakan salah satu bentuk mistisme dari sekian bentuk mistisme-mistisme lain. Dengan tasawuf, jiwa-jiwa sufi bergerak mengalir menuju pusat aliran gelombang wahyu (Tuhan). Demikian halnya dengan mistisme-mistisme lain, juga bergerak kembali menuju satu pusat, yaitu Yang Maha Kebenaran. Dari sinilah kemudian tasawuf dan mistisme-mistisme lain bersifat universal.[17]

Kitab Suci

Aliran-aliran gelombang wahyu ini berbentuk kitab suci, yaitu al-Qur’an. Disini Martin Lings berbicara bagaimana al-Qur’an begitu berperan dalam pembentukan jiwa-jiwa para sufi yang mengalir menuju Satu Pusat.

al-Qur’an adalah sumber ajaran dimana mistisme Islam itu muncul. Ia terus-menerus dibaca, setiap saat, setiap detik. Kaum sufi berbicara tentang upaya tenggelam (istighraq) dalam ayat-ayat al-Qur’an yang menurut salah satu doktrin Islam paling fundamental, merupakan Kalimat Tuhan Yang Tak Diciptakan. Yang diupayakan para sufi, menurut istilah kaum sufi, adalah pelenyapan (fana’) yang diciptakan dalam Yang Tak Diciptakan, yang temporal dalam Yang Eternal, yang terbatas dalam Yang Tak Terbatas. Bagi kaum sufi membaca al-Qur’an sepanjang hidupnya merupakan jalan utama untuk konsentrasi merenungkan Tuhan, yang ia sendiri merupakan esensi segala jalan spiritual. Al-Qur’an dibaca terus-menerus oleh kaum sufi —di India dan Afrika Barat misalnya— yang hanya sedikit mengenal bahasa Arab. Pembacaan mereka dengan demikian menjadi zikir terus-menerus dengan menyebut Asma Allah. Lebih dari itu mereka sadar bahwa al-Qur’an merupakan gelombang pasang dan surut yang mengalir pada mereka dari Tuhan dan ayat-ayatnya merupakan tanda-tanda (ayat) menakjubkan yang akan membawa mereka kembali kepada Tuhan, dan itulah tepatnya mengapa mereka membacanya.

Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”. Do’a ini dibaca beberapa kali dalam shalat, dan konsekuensinya ia menjadi permohonan yang paling sering dilantunkan dalam Islam. Namun secara khusus ia menjadi milik para sufi. Karena sebagai kelompok —di antara komunitas masyarakat— yang paling berhasrat untuk menempuh jalan itu, mereka menyerah-kan diri mereka secara penuh pada ayat tersebut, sedang yang lain tidak bisa. Sehingga dari sinilah para sufi mengajukan pertanyaan kepada diri mereka sendiri: Apakah jalan yang lurus itu? Sebagai jawaban atas pertanyaan inilah tasawuf menjadi eksis. Tasawuf adalah jalan yang paling langsung kepada Allah. Dengan demikian, kata thariqah (jalan) secara luas memiliki arti tarekat atau persaudaraan kaum sufi.

Ayat lain yang dapat disejajarkan dengan ayat tersebut adalah: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali”. Kaum sufi mengklaim bahwa tasawuf terangkum dalam ayat ini. Ayat ini juga sering dilagukan dalam halaqah mereka serta diulang-ulang dalam jumlah tertentu menurut hitungan tasbih. Dengan kedua ayat inilah para sufi bergerak menuju Ilahi.

Ciri esensial risalah al-Qur’an adalah pembentukan sebuah hierarki nilai yang dapat berperan sebagai patokan untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang layak. Ia tidak hanya membedakan antara yang salah dan yang benar, ortodoksi dan penyimpangan, kebenaran dan kepalsuan, agama dan paganisme. Ia juga membuat distingsi, dalam dataran ortodoksi antara mereka yang bergerak maju dengan penuh semangat, para perintis (sabiqun), dan mereka yang moderat dalam ibadah. Dari sini kemudian muncul tiga pembagian jenjang spiritual; pertama, para sufi, yang disebut sebagai “penempuh jalan” (salikun). Kedua, mereka yang secara relatif ‘diam’, tetapi keimanan dan praktik keagamaan mereka mendapat wangi tasawuf. Ketiga, mayoritas masyarakat yang eksoterik.[18]

Rasul

Dalam satu kesempatan setelah wafat Nabi Muhammad saw., ketika ‘Aisyah ra. ditanya tentang pribadi Nabi saw. dia menjawab: “Pribadi beliau adalah al-Qur’an”. Pernyataan ini meski dimaknai bahwa dari pengalaman kedekatannya dengan Nabi saw., dia membangun kesan bahwa Nabi saw. adalah sebuah inkarnasi dari Kitab Suci Yang Diwahyukan. Jawaban ‘Aisyah tersebut juga tidak mengherankan jika melihat analogi antara risalah dan rasul. Karena rasul bukan sekedar penerima Risalah Yang Diwahyukan, tetapi juga seperti wahyu, ia dikirimkan —yang merupakan pengertian kata rasul— ke dunia ini dari Alam Luar.

al-Qur’an merangkum semua aspek kehidupan manusia, demikian juga nasib Muhammad yang ditakdirkan menembus dengan kemampuan luar biasa pada domain pengalaman manusia, baik publik atau individu. Nabi saw. sebagai manusia yang mampu mengkombinasikan kepentingan duniawi dan ukhrowi. Sebagaimana terekspresi dalam sabda beliau yang sangat terkenal: “Bekerjalah untuk dunia ini seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok”.

Nabi adalah prototype kesempurnaan manusia yang dijadikan teladan bagi semua manusia. Dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir dan dia banyak menyebut Allah”. Penyebutan Hari Akhir ini merupakan pengingat bahwa seperti al-Qur’an sendiri, Nabi sendiri selalu dibayangi dengan Sa’ah (Peristiwa Hari Terakhir). Keterbayangan ini tidak bisa dilepaskan dari salah satu peristiwa terpenting dari misinya, yaitu Isra’ (Perjalanan Malam), yang juga disebut dengan Mi’raj (Kenaikan), jika dilihat dari bagian penting peristiwa itu.[19]

Rasulullah masuk dan meninggalkan dunia ini dengan melewati gerbang samawi yang menjadi kiblat seluruh mistisme, pusat kesempurnaan manusia. Yang mana seorang mistikus tidak pernah bisa mencapai pusat kesempurnaan ini dengan usahanya sendiri. Tetapi Nabi sendiri selalu hadir pada pusat ini, dan terhadap orang-orang yang tidak berada di titik itu, beliau memiliki kewenangan membentangkan suatu “garis kehidupan” (life-line), yaitu mata rantai (silsilah) yang menyambungkan garis asal-usul spiritual kembali pada dirinya. Setiap tarekat sufi (thariqah) diturunkan dari Nabi melalui cara ini, dan perkenalan ke dalam suatu tarekat memiliki makna pengikatan pada rantai partikularnya. Ini menganugerahkan sentralitas sejati, yaitu penyatuan kembali yang sebenarnya ke dalam Keadaan Primordial (Primordial State) yang kemudian harus diaktualkan.

Prototip terkemuka dari ritus perkenalan sufi adalah peristiwa yang terjadi pada momen krusial dalam sejarah Islam, sekitar empat tahun sebelum wafat Nabi. Ketika Nabi sedang duduk di bawah sebatang pohon, beliau memanggil empat sahabatnya yang hadir untuk mengikrarkan kesetiaan mereka kepadanya melebihi ikrar yang mereka nyatakan saat masuk Islam. Dalam beberapa tarekat, ritus jabat tangan dijadikan pelengkap, dan dalam tarekat yang lain diganti dengan bentuk perkenalan lain. Seperti seorang syekh mengulurkan tasbihnya kepada seorang peserta baru yang memgang ujung lainnya sementara formula perkenalannya dilafalkan[20]. Dalam al-Qur’an disebutkan:

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmi ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”.[21]

Hati[22]

al-Qur’an menyatakan: “Bukanlah mata yang buta, melainkan hati[23]. Ini menunjukkan bahwa sudut pandang al-Qur’an bahwa dalam menyifati visi terhadap hati dan dalam menggunakan kata “hati” ini untuk menunjuk tidak hanya nama organ tubuh tetapi juga tentang jalan masuk yang disediakan oleh pusat jasmani ini, yaitu pusat jiwa, yang ia sendiri merupakan gerbang pada “hati” yang lebih tinggi, yaitu Ruh. Jadi, “hati” sering dianggap sebagai sinonim intelek, bukan dalam arti kata yang sering disalahgunakan saat ini, tetapi dalam pengertian utuh dari bahasa Latin intellectus, yaitu daya yang dapat mengelola sesuatu yang transenden.[24]

Dalam sebuah hadits qudsi: “Bumi-Ku tidak memiliki ruang untuk-Ku, juga langit-Ku. Tetapi hati hamba-Ku yang beriman memiliki ruang untuk-Ku”. Contoh lain dapat ditemukan dalam puisi al-Hallaj yang diawali dengan: “Aku melihat Tuhanku dengan mata hati. Aku bertanya: ‘Siapa kau?’ Dia menjawab: ‘Engkau’.” Dari sini hati bisa dianggap sebagai padanan kata Ruh (spirit) yang sama-sama memiliki aspek Ilahi sekaligus juga aspek kemakhlukan. Istilah hati digunakan dalam tasawuf —sebagaimana dalam mistisme lainnya— sebagai pusat jiwa.

Pada dasarnya manusia adalah manifestasi wujud Ilahi. Salah satu kunci al-Qur’an atas makna-makna batin adalah ayat: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”. Dengan demikian, hati adalah daya pandang spiritual (atau intelektual) langsung, tetapi pada sebagian manusia daya ini tertutupi.

Karena setiap orang selamanya memiliki pusat kesadaran, maka setiap orang bisa dikatakan mempunyai “hati”. Tetapi kaum sufi menggunakan istilah itu dalam pengertian transenden untuk menunjuk pusat kesadaran. Prinsip ini berakar pada definisi Nabi tentang ihsan yang terkait dengan pengetahuan hati: “Ihsan adalah bahwa engkau akan beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu”.

Nabi bersabda: “Terdapat pembersih bagi segala sesuatu yang mengotori; dan pembersih hati adalah dengan menyebut Allah”. Untuk menjangkau kualitas ihsan sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi di atas, hati manusia harus bersih dari hasrat-hasrat negatif. Karena hasrat-hasrat negatif ini bagaikan awan mendung yang menghalangi sinar matahari untuk bisa langsung mencapai bumi.

Doktrin

Seluruh doktrin berhubungan dengan pikiran. Tetapi doktrin mistik, yang bisa disamakan dengan ‘ilm al-yaqin, merupakan panggilan pada pikiran untuk mentransendenkan dirinya sendiri.

Tidak ada Tuhan selain Allah: bagi pikiran, ia merupakan formulasi kebenaran, dan bagi kehendak ia merupakan perintah berkenaan dengan kebenaran. Tetapi bagi hati dan perpanjangan-perpanjangan intuitifnya atas keyakinan, ia merupakan sintesis tunggal, sebuah Nama Kebenaran.

Surat al-Ikhlas (keikhlasan), mengandung makna kesepakatan tanpa syarat (ikhlas). Ikhlas ini perlu dicapai, karena jiwa perlu disadarkan bahwa Yang Satu dan Satu-satunya hanyalah Allah. Dari sini juga mengisyaratkan bahwa tiada yang wujud selain Dia, bahkan wujud alam ini pada hakikatnya tidak ada, termasuk diri para sufi itu sendiri.

Pikiran sejauh mungkin harus dikuasai dari pemahaman dualitas Tuhan. Kendati demikian, kebingungan senantiasa mengintai yang setiap saat siap menyergap. Dari sinilah kemudian para sufi (salik) membutuhkan pencerahan dalam bentuk Guru Spiritual. Sebagaimana pada masa Nabi, beliau menjadi panutan sekaligus guru spiritual bagi para sahabat pada saat itu.

Metode[25]

Tak ada yang lebih menyenangkan-Ku, sebagai cara bagi hamba-Ku untuk mendekat kepada-Ku kecuali ibadah yang telah Aku wajibkan atasnya, dan hamba-Ku tak henti-henti mendekati Aku dengan amalan-amalan sunnah yang dikehendakinya sendiri sehingga Aku mencintainya, dan manakala Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengan itu dia mendengar, dan menjadi penglihatannya yang dengan itu dia melihat, dan menjadi tangannya yang dengan itu dia menggenggam, dan menjadi kakinya yang dengan itu dia melangkah”.

Tasawuf secara keseluruhan terhimpun dalam hadits qudsi ini, yang barangkali sering dikutip para sufi daripada teks manapun selain al-Qur’an. Seperti dapat dipahami dari hadist ini, amalan-amalan para sufi terdiri dari dua macam: ritus-ritus yang diwajibkan kepada muslim dan ritus-ritus tambahan yang bersifat suka rela (sunnah). Bagi seorang pemula dalam tasawuf (mubtadi’) yang memasuki suatu tarekat, hal pertama yang harus dikerjakannya adalah mempelajari dimensi ekstra yang akan membukakan kedalaman dan ketinggian dari ritus-ritus yang telah ia jalankan dengan lebih atau kurang eksoteris sejak masa kanak-kanak.

Rukun Islam yang meliputi lima hal: syahadah, shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Syahadah dalam tinjauan tasawuf berbeda dengan orang awam[26]. Bagi mereka “tiada Tuhan selain Allah”, berarti hanya Allah yang al-Haqq, yang Ada. al-Hallaj melontarkan paradoksnya yang menggegerkan itu: “Barangsiapa bersaksi bahwa Allah itu Esa, berarti mengadakan sesuatu di samping Dia (yakni diri pribadinya sendiri sebagai yang menyaksikan)”.

Sang saksi haruslah Diri, bukan diri, yang berarti jiwa tak berwenang menyuarakan syahadah. Semua tarekat sufi sepakat mengenai hal ini, meskipun boleh jadi berbeda dalam metode-metode yang menjembatani celah antara kemunafikan dan keikhlasan.

Sedangkan syahadah kedua, Muhammad Rasulullah, secara metodik sebagai bentuk penolakan untuk mengakui bahwa kejatuhan manusia pernah terjadi. Tetapi, titik pandang ini perlu dipadukan dengan kesadaran yang tajam terhadap akibat-akibat kejatuhan itu, yaitu kelemahan-kelemahan seseorang dan bila perlu juga kelemahan-kelemahan orang lain.

Rukun kedua Islam adalah shalat berikut wudhu (penyucian) yang menjadi bagian tak terpisahkan darinya. Semua muslim sependapat bahwa ritus merupakan suatu tindakan simbolik dan penyucian melambangkan pembersihan atau pemurnian jiwa. Sebagaimana asal kata sufi yang bermakna dasar “murni”. Bisyr al-Hafi, salah seorang sufi awal yang terkenal dari Baghdad berkata lugas ketika menerangkan istilah ini: “Sufi adalah orang yang menjaga hatinya tetap murni (shafi)”. Dan menurut al-Qur’an, air adalah salah satu simbol kerahmatan (yang mencakup pemurnian) dan simbol kehidupan.

Segala yang ada di bumi ini musnah; dan yang tetap kekal hanyalah Wajah Tuhanmu dalam keagungan dan kemuliaan-Nya[27]”. Kemusnahan dikorespondensi-kan dengan sujud, dan kekekalan dengan duduk, sebagai sikap paling teguh dan mantap dalam keseluruhan gerakan sembahyang. Dari ayat ini diturunkan dua istilah pokok sufi: fana’ (kelenyapan) dan baqa’ (keabadian, kekekalan), bukan sebagai dirinya, tetapi sebagai Sang Diri, sehingga seseorang yang telah mati dapat dikatakan hidup.

Di antara amalan-amalan sunnah Islam yang dijalankan para sufi[28], pujian-pujian nama Allah, pembacaan ayat-ayat al-Qur’an sebagai bentuk perpanjangan dari dzikr Allah.

Amalan sunnah berikutnya adalah puasa (bukan hanya puasa jasmani yang dimulai dari terbit hingga terbenamnya matahari). Puasa di sini sebagai bentuk qabd[29] (penciutan, pengengekangan) yang berimplikasi pada basth (perluasan) kemampuan hati.

Pengasingan spiritual dalam sufi, khalwah (penyepian) merupakan qabd yang paling ketat. Berdasarkan sunnah Nabi, beberapa tarekat bersikeras bahwa penyepian harus dilakukan dalam lingkungan alamiah. Dalam tarekat-tarekat lainnya, itu dilaku-kan di bawah pengawasan seorang syekh, dalam sebuah kamar yang dibangun untuk keperluan ini.

Istilah jawlah digunakan bersama-sama untuk menyatakan amalan-amalan yang merupakan pelengkap khalwah. Contoh paling nyata dari jawlah dijumpai dalam majelis-majelis dzikir, kurang lebih semacam pertemuan reguler yang di dalamnya persaudaraan tarekat itu bersama-sama melantunkan pujian-pujian sambil menyebut nama Ilahi. Dalam kebanyakan tarekat, tarian sakral disajikan pula dalam pertemuan-pertemuan ini, bahkan seringkali sebagai pembuka untuk acara pengheningan cipta. Yang paling masyhur di antara tarian-tarian ini adalah tarian yang diciptakan oleh Jalaluddin ar-Rumi (w.1273) untuk tarekatnya, tarekat Mawlawiyah (dalam bahasa Persia: Mavlevi) yang anggota-anggotanya lebih dikenal oleh orang Barat sebagai “darwis-darwis berputar”, les dervihes tourneurs, atau sebutan semakna lainnya. Dzikir Allah disimbolkan dengan tarian-tarian sakral ini. Namun, tidak semua tarekat memiliki tarian-tarian sakral.

Dalam kaitannya dengan qabd dan basth, suatu pujian dibaca secara teratur dalam hampir semua tarekat. Yang beragam dari satu tarekat ke tarekat lainnya hanya dalam beberapa rinciannya[30]. Di antara ragam formula pujian tersebut, pertama, istighfar, sebagai bentuk qabd tobat bagi sang sufi. Kedua, shalawat Nabi, sebagai puncak basth. Ketiga, menarik kembali qabd dan basth itu kepada bentuk-bentuk asli transendennya, yaitu fana’ (peleburan) dan baqa’ (kekekalan), yang ditarik dari lafadz la ilaha illallah.

Ketakutan (makhafah), cinta (mahabbah) dan pengetahuan (ma’rifah), merupakan esensi penting dari pujian-pujian sebagai ringkasan dari tasawuf. Meditasi (fikr) —yang merupakan aspek esensial jalan spiritual sebagai pengiring dzikir— didasarkan pada ketiga titik pandangan ini.

al-Qur’an terus menerus menandaskan pentingnya dzikir dan fikr dalam kehidupan spiritual yang mana hal ini sama vitalnya dengan fungsi darah beserta urat-uratnya dalam kehidupan jasmani. Tanpa fikr, dzikir tidak akan berjalan sama sekali. Tanpa dzikir, fikr tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Eksklusifitas Tasawuf

Aspek eksklusif dari tasawuf ini hanya memperhatikan orang-orang yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi “penempuh jalan” (salik) dalam pengertiannya yang paling utuh. Tetapi secara periodik, aspek eksklusif ini kadang-kadang merupakan sarana inklusi. Sebab dalam diri seseorang tak mustahil terdapat kualifikasi-kualifikasi untuk menempuh jalan spiritual. Beberapa jiwa tampil secara eksklusif sebagai ahli dalam menempuh jalan spiritual ini. Dan sebagian yang lain, ada jiwa yang tampil sebagai penerima bimbingan dari para ahli spiritual ini.[31]

Tasawuf Sepanjang Masa[32]

al-Qur’an terus menerus menyebut Muhammad dan para sahabatnya dengan ungkapan: “Kalianlah sebaik-baik umat yang pernah diciptakan (sebagai panutan) bagi umat manusia”. Keutamaan komunitas umat itu juga dipaparkan sehingga menjadi jelas. Bukan hanya sekali al-Qur’an menegaskan bahwa Tuhanlah yang memimpin atau menyatukan hati kaum mukmin. Dan pada puncak kejayaan yang telah ditetapkan, umat terbaik ini dikendalikan oleh kekuatan yang cukup lama menanamkan beberapa prinsip yang membekas tak terhapuskan.

Hadist Nabi penuh dengan ajaran-ajaran bersifat mistis yang menunjukkan bahwa Muhammad —seperti diyakini para sufi— sesungguhnya adalah Syekh sufi pertama. ‘Semua jalan mistik tidak sah (mu’tabar) kecuali dari orang yang mengikuti jejak Rasulullah’, kata al-Junayd, juga ‘pengetahuan kami ini didasarkan pada ujaran-ujaran Rasulullah’. Terbentuknya suatu kesatuan spiritual berarti ada tanggapan umum terhadap daya tarik batiniah dan ukhrawi beliau. Tak diragukan lagi faktor bias mistik ini ditunjukkan oleh adanya sejumlah besar golongan perintis (sabiqun) di antara umat.


Kesimpulan

Dari deskripsi buku Martin Lings di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Tasawuf bersifat orisinil karena tasawuf bersumber dari al-Qur’an dan al-hadist. Bersifat universal karena inti dari tasawuf adalah kembali pada Yang Maha Esa, yang mana dari setiap mistisme yang ada di setiap agama juga bertujuan seperti ini.
  2. Hati, doktrin dan metode, merupakan aspek-aspek yang dominan dalam praktik tasawuf. Karena hati sebagai objek dari tasawuf itu sendiri. Sedangkan doktrin merupakan hal-hal yang digunakan untuk melatih hati. Dan metode merupakan pola pelatihan hati yang meliputi berbagai aspek seperti; syaikh, amalan-amalan sunnah, dan wirid. Hati menjadi objek dari bentuk latihan tasawuf ini disebabkan karena hati merupakan bagian terpenting yang sangat berpengaruh dalam perilaku (akhlak) salik itu sendiri baik di hadapan manusia, lingkungan dan Allah.
  3. Di samping bersifat inklusif, tasawuf juga bersifat eksklusif, karena tidak semua manusia mampu menjalani tahapan-tahapan dalam tasawuf yang bagi orang awam sangatlah berat. Sehingga hanya ‘orang-orang pilihan’ yang mampu menjalani tasawuf dengan semua komitmen yang harus dijalani. Dan ‘orang-orang pilihan’ inilah yang menjadi penyampai silsilah tarekat itu. Dari sinilah kemudian tasawuf bisa bertahan sepanjang masa.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, M., Dr., Studi Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996.

Abdulloh, Sayyid, al-Haddad, Thoriqoh Menuju Kebahagiaan (terj.), Mizan, Bandung, cet.VIII, 1996.

al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Dar Ihya’il Kutub al-‘Arabiyah, tt. jld.3.

Amin, Muhammad, al-Kurdi, al-Irbili, Tanwir al-Qulub fi Mu’amalat ‘Allam al-Ghuyub, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Libanon, cet.IV, 2006.

Awaji, bin Ali, Ghalib, Penyimpangan Sufisme (terj.), Padma, Yogyakarta, 2003.

Bi’, Khudori, Tarjamah Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, Darul Ikhya, Semarang, 1980.

Connoly, Peter (ed.), Aneka Pendekatan Studi Islam (terj.), LKiS, Yogyakarta, 2002.

Dahlan, Muhammad, Ihsan, al-Jampesi, al-Kediri, Sirojut Tholibin, al-Hidayah, Surabaya, tt., jld.1.

Hawwa, Sa’id, Jalan Ruhani (terj.), Mizan, Bandung, cet.IX, 2001.

Lings, Martin, Muhammad (terj.), Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, cet.V, 2007.

___________, Ada Apa Dengan Sufi? (terj.), Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2004.

Masyhuri, Aziz, A., KH., Permasalahan Thariqah – Hasil Keputusan Muktamar & Musyawarah Besar Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama (1957 2005 M.), Khalista, Surabaya, 2006.

Nata, Abudin, H., Metodologi Studi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet.8, 2003.

Syukur, Amin & Masyharuddin, Intelektualisme Tasawuf – Studi Intelektualisme Tasawuf al-Ghazali, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.

Valiuddin, Mir, Dr., Dzikir dan Kontemplasi Dalam Tasawuf (terj.), Pustaka Hidayah, Bandung, cet.VI, 2000.

Chittick, William, C., Tasawuf di Mata Kaum Sufi (terj.), Mizan, Bandung, 2002.

http://www.books by martin lings published and distributed by fons vitae.com

http://www.islamic college for advanced study (ICAS).com

http://www.republika online.com

http://www.serambi online.com


[1] Dr. M. Amin Abdullah, Studi Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 10.

[2] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003) cet.VIII, hlm. 2.

[3] Abudin Nata, op.cit., hlm.28.

[4] Peter Connoly (ed.), Aneka Pendekatan Studi Islam (terj.), (Yogyakarta: LKiS, 2002) hlm. 321.

[5] William C. Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi (terj.), (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 71.

[6] William C. Chittick, op.cit., hlm.18.

[7] Amin Syukur & Masyharuddin, Intelektualisme Tasawuf – Studi Intelektualisme Tasawuf al-Ghazali, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 13.

[8] Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kediri, Sirojut Tholibin, (Surabaya: al-Hidayah, tt.), jld.1, hlm.4.

[9] Sayyid ‘Abdulloh al-Haddad, Thoriqoh Menuju Kebahagiaan (terj.), (Bandung: Mizan, 1996), cet.VIII, hlm. 25.

[10] Amin Syukur & Masyharuddin, op.cit., hlm.16.

[11] DR. Martin Lings (24 January 1909-12 Mei 2005) adalah murid dan pengikut setia dari Frithjof Schuon, berasal dari Inggris yang juga seorang ilmuwan Sufisme. Dia dikenal sebagai pelopor pendekatan filsafat perennial (atau kalangan kebanyakan menyebutnya tasawuf) dalam bidang studi agama.

Walau terlahir di Burnage, Lancashire, dia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Amerika Serikat, mengikuti ayahnya yang bekerja di sana. Kembali ke Inggris, dia bersekolah di Clifton College, Bristol. Setelah itu, Lings melanjutkan pendidikan di Magdalen College, Oxford, belajar literatur Inggris dan memperoleh gelar BA tahun 1932. Tahun 1935, dia pergi ke Lithuania, menjadi pengajar studi Anglo-Saxon dan Inggris Tengah di Universitas Kaunas.

Tahun 1940, Lings datang ke Mesir mengunjungi seorang temannya yang kebetulan mengajar di Universitas Kairo. Akan tetapi, pada saat kunjungannya itu, sang teman meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Lings ditawari untuk mengisi posisi temannya sebagai pengajar. Dia menerima tawaran tersebut.

Lings pun mulai mempelajari Islam. Setelah banyak berhubungan dengan ajaran Sufi Shadlhiliyya, dia berketetapan hati untuk masuk Islam, dan mengganti namanya menjadi Abu Bakr Siraj Ad-Din.

Pada saat yang sama, Lings juga dekat dengan seorang filosof mistis asal Prancis, Rene Guenon, yang juga sudah memeluk Islam. Dia lantas menjadi asisten pribadi serta penasehat spiritual Guenon. (dinukil dari Islamic College for Advanced Study (ICAS): Jakarta yang didownload pada tanggal 28 Oktober 2007)

[12] Buku berjudul “Muhammad” ini menceritakan kisah hidup Nabi berdasarkan sumber klasik berbahasa Arab dari abad ke-8 dan ke-9. Dengan keahlian yang seolah tak tertandingi, Martin Lings menghadirkan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dengan narasi dan detil mengagumkan. Buku ini terpilih sebagai biografi Nabi terbaik dalam bahasa Inggris pada konferensi Sirah Nasional di Islamabad tahun 1983. Sejak itu karya ini telah dipublikasikan dalam bahasa Prancis, Italia, Spanyol, Turki, Belanda, Tamil, Arab, Jerman, Urdu, dan sekarang, Indonesia. Pada 1990, setelah buku ini berhasil mencuri perhatian Universitas al-Azhar Kairo, penulisnya menerima bintang kehormatan dari Presiden Hosni Mubarak. (dinukil dari Republika Online dan Serambi Online yang didownload pada tanggal 28 Oktober 2007). Diantara buku Martin Lings yang lain adalah Sufi Poems (A Medieval Anthology), A Return to The Spirit, Symbol and Archetype (A study in the meaning of existence), Mecca (From before Genesis until Now), The Eleventh Hour (The spiritual crisis of the modern world), The Book of Certainty (The Sufi doctrine of faith, vision and gnosis), Collected Poems, Ancient beliefs and modern superstitions, The Secret of Shakespeare (His plays in the light of sacred art), A Sufi saint of the twentieth century, Splendours of Qur’an Calligraphy and Illumination, (dinukil dari Books by Martin Lings published and distributed by Fons Vitae yang didownload pada tanggal 28 Oktober 2007).

[13] Di sini Martin Lings mencoba memaparkan tentang orisinilitas tasawuf. Dia melihat bahwa tasawuf murni bersumber dari ajaran Islam, al-Qur’an dan al-hadist, meskipun dua sumber ajaran Islam ini tidak menyebutkannya secara tersurat. Sebagaimana diungkapkan William C. Chittick bahwa tasawuf adalah nama tanpa realitas, tetapi dahulu ia adalah realitas tanpa nama. Keterangan lebih lanjut bisa dibaca di William C. Chittick, op.cit., hlm.17. Bandingkan juga dengan Amin Syukur & Masyharuddin, op.cit., hlm.17-42. Bandingkan juga dengan Ghalib bin ‘Ali ‘Awaji, Penyimpangan Sufisme (terj.), (Yogyakarta: Padma, 2003), hlm.39-43.

[14] QS. al-Qadr:3.

[15] Martin Lings disini menilai bahwa tasawuf adalah salah satu bentuk isme dalam Islam. Karena tasawuf corak ajarannya bersumber dari Islam. Penyebutan tasawuf sebagai salah satu bentuk mistisme dari sekian banyak mistisme agama lain adalah bertujuan agar pemahaman tentang tasawuf lebih mudah. Sebagaimana diungkapkan oleh William C. Chittick, op.cit., hlm.18, bahwa akan sangat membantu apabila dipahami bahwa tasawuf mempunyai kesamaan dengan tradisi-tradisi lain —seperti Kabbalah, mistisme Kristen, Yoga, Vedanta, dan Zen— tetapi menghubung-hubungkannya dengan senya istilah itu tidak akan membantu kita semakin mencapai kedekatan dengan tasawuf itu sendiri.

[16] Sebenarnya saya kurang sepaham dengan apa yang dipaparkan oleh Martin Lings tentang tujuan tasawuf ini. Karena apabila ditinjau dari pengertian tasawuf sendiri, tujuan tasawuf adalah perbaikan akhlak dengan cara mengenali diri (hati) melalui latihan-latihan yang berkesinambungan dan bertahap, yang akhirnya seluruh jiwa raga tercurah hanya kepada-Nya. Apabila hati baik, maka seluruh anggota tubuh menjadi baik pula. Sebaliknya, apabila hati tidak baik, maka tidak baik pula seluruh anggota tubuh. Dan keadaan hati ini juga akan berpengaruh pada perilaku (akhlak) seseorang. Sebagaimana yang dipaparkan al-Ghazali bahwa seluruh anggota tubuh merupakan pengikut, pelayan, dan sarana bagi hati (al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, [Dar Ihya’il Kutub al-‘Arabiyah, tt.], jld.3, hlm.2).

[17] Martin Lings menganalogikan antara tasawuf dan mistisme agama lain dengan bentuk roda dan jari-jarinya. Dia memandang bahwa antara tasawuf dan mistisme agama lain memiliki kesamaan, karena semua agama mengajarkan iman kepada Yang Maha Esa. Dengan demikian, otomatis semua bentuk mistisme agama orientasi akhirnya adalah tertuju pada Tuhan Yang Maha Esa.

[18] al-Qur’an diturunkan hanyalah untuk memperbaiki hal ihwal manusia. Oleh karena itu, maka datanglah perintah-perintah dan larangan-larangan:

NèdããBù’tƒ Å$rã÷èyJø9$$Î/ öNßg8pk÷]tƒur Ç`tã ̍x6YßJø9$# ‘@Ïtä†ur ÞOßgs9 ÏM»t6Íh‹©Ü9$# ãPÌhptä†ur ÞOÎgøŠn=tæ y]Í´¯»t6y‚ø9$#

Nabi itu menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (QS. al-A’raf:157). (Khudori Bi’, Tarikh al-Tasyri’ al-Islami [terj.], [Semarang: Darul Ikhya, 1980] hlm.31). Demikian halnya dengan risalah Nabi adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

[19] Bandingkan dengan tulisan Martin Lings dalam buku Muhammad (terj.), (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2007), cet.V, hlm.526-533. Disana dipaparkan tentang bagaimana Nabi begitu besar perhatian-nya terhadap urusan akhirat, sehingga ketika beliau berbicara tentang akhirat seolah-olah beliau sudah berada di alam tersebut.

[20] Dalam tarekat proses ini dikenal dengan bai’at atau ikrar sebagai pengikut suatu tarekat tertentu. Yaitu, seorang syekh menuntun calon salik membaca beberapa bacaan yang meliputi bacaan istighfar, shalawat, dan hadiah bacaan fatihah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad dan Imam tarekat tersebut. Selanjutnya syekh itu menuntun dzikir calon salik yang kelak dzikir tersebut akan menjadi dzikir yang harus dijalani oleh salik dalam setiap harinya.

[21] QS. al-Fath:18.

[22] Kata “hati” (qalb) mempunyai dua makna: dalam satu arti, ini adalah nama segumpal daging berbentuk kerucut yang terletak di sisi sebelah kiri dada dan berongga di dalamnya, mengandung darah serta dianggap sebagai sumber ruh. Sedangkan hati yang dimaksud disini adalah wadah untuk menerima rahmat Allah. Substansinya bersifat spiritual. Substansi spiritual ini adalah esensi manusia. Substansi ini sajalah yang mempunyai persepsi, pengetahuan, dan gnosis atau ma’rifah. Inilah hati yang diperingatkan, dicela dan dihukum. (Dr. Mir Valiuddin, Dzikir dan Kontemplasi Dalam Tasawuf [terj.], [Bandung: Pustaka Hidayah, 2000], cet.VI, hlm.61). Bandingkan juga dengan Sa’id Hawwa, Jalan Ruhani (terj.), (Bandung: Mizan, 2001), cet.IX, hlm.44-45.

[23] QS. al-Haj:46.

[24] Sa’id Hawwa juga memaparkan garis-garis besar tentang (pengertian) hati sebagai patokan penunjuk terhadap jalan yang paling lurus bagi topik ini: pertama, alam hati adalah alam yang sangat luas. Sakit dan sehatnya hari merupakan dua hal yang menentukan sejahtera tidaknya manusia di dunia dan akhirat. Jika demikian, maka bila hati sakit pasti terjadi pergolakan yang salah, sehingga manusia dengan hati yang sakit itu tetap berada dalam keadaan “gelisah dan bingung”, dan itu akan menyeret pada kerugian dan kebinasaan: Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya (QS. an-Nisa’:88). Kedua, penyempurnaan dan ‘rehabilitasi’ hati membutuhkan ilmu, amal, dan ketekunan. Dengan ilmu, manusia menjadi tahu akan hakikat kesehatan. Dengan amal, dia berusaha untuk membendung dan menghentikan penyakit, lalu mengusirnya. Dan dengan ketekunan, ia melanjutkan semangat dan cita-citanya secara kontinu dalam perjalanan ruhani dan kerja dzikir yang kontinu, sampai tidak seorang pun yang mempunyai persepsi bahwa tanpa ketekunan akan terdapat kesehatan kalbu. (Sa’id Hawwa, op.cit., hlm.61).

[25] Yang dimaksud dengan metode di sini adalah thariqah. Sedangkan nama-nama thariqah mu’tabarah berjumlah 44 macam, sebagaimana berikut: 1. ‘Umariyyah, 2. Naqsyabandiyyah, 3. Qadiriyyah, 4. Syadzilillah, 5. Rifa’iyyah, 6. Ahmadiyyah, 7. Dasuqiyyah, 8. Akbariyyah, 9. Maulawiyyah, 10. Kubrawiyyah, 11. Sahrawardiyyah, 12. Khalwatiyyah, 13. Jalwatiyyah, 14. Bakdasiyyah, 15. Ghazaliyyah, 16. Rumiyyah, 17. Sa’diyyah, 18. Ghistiyyah, 19. Sya’baniyyah, 20. Kalsyaniyyah, 21. Hamzawiyyah, 22. Bairumiyyah, 23. Usysyaqiyyah, 24. Bakriyyah, 25. Idrusiyyah, 26. Utsmaniyyah, 27. Alawiyyah, 28. Abbasiyyah, 29. Zainiyyah, 30. Isawiyyah, 31. Buhuriyyah, 32. Haddadiyyah, 33. Bhaibiyyah, 34. Khadiriyyah, 35. Syathariyyah, 36. Bayumiyyah, 37. Malamiyyah, 38. Uwaisiyyah, 39. Idriyyah, 40. Akabiral Auliyyah, 41. Matbuliyyah, 42. Sunbuliyyah, 43. Tijaniyyah, 44. Samaniyyah.

Sejumlah 44 macam thariqah tersebut sebagai wadah, dan tidak kesemuanya ada di Indonesia. Nomor 2, 3, 35, itulah yang berkembang banyak di Indonesia. Sedangkan nomor 4, 43, 44, hanya sebagian daerah saja. (KH. A. Aziz Masyhuri, Permasalahan Thariqah – Hasil Keputusan Muktamar & Musyawarah Besar Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama (1957 2005 M.), [Surabaya: Khalista, 2006], hlm.22-23).

[26] Syahadat juga mendefinisikan isi dan kandungan keimanan, yang unsur utamanya adalah iman kepada Allah. Sifat Allah yang wajib diimani oleh kaum Muslim terangkum secara ringkas dalam bagian pertama kalimat syahadat (“la ilaha illa Allah”), sementara semua objek keimanan dikonseptualisasikan seiring dan bersamaan dengan bagian kedua kalimat syahadat (“Muhammad rasul Allah”), yang mencakup domain risalah dan rasul. (William C. Chittick, op.cit., hlm.27)

[27] QS. al-Mukmin:60.

[28] Sayyid ‘Abdulloh al-Haddad, op.cit., hlm.95, menukil pendapat al-Ghazali bahwa hendaknya seorang salik membagi-bagi waktu dan mengatur wirid-wirid dengan menetapkan waktu-waktu bagi setiap kesibukan, dan hendaknya waktu-waktu tersebut tidak dilanggar. Sedangkan bentuk-bentuk wirid itu bermacam-macam, antara lain; wirid berupa shalat sunnah, wirid berupa shalat rawatib dan witir, wirid berupa shalat Tahajjud (shalat al-lail), wirid berupa tilawah al-Qur’an, wirid berupa mempelajari ilmu bermanfaat, wirid berupa membaca kitab-kitab tafsir, hadist, dan tasawuf, wirid berupa zikir. Keterangan lebih lanjut baca Sayyid ‘Abdulloh al-Haddad, op.cit., hlm.98-114.

[29] Istilah qabd dalam tarekat Naqsyabandiyah berarti segala sesuatu yang mengganggu proses dzikir sehingga memecahkan konsentrasi hati. Qabd ini biasanya muncul ketika mata sudah terpejam (Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili, Tanwir al-Qulub fi Mu’amalat ‘Allam al-Ghuyub, [Libanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006], cet.IV, hlm.564).

[30] Pada dasarnya metode dzikir yang digunakan oleh para sufi ada 2 macam; dzikir jali (keras) dan dzikir khafi (diam) (Dr. Mir Valiuddin, op.cit., hlm.121). Dalam tarekat Naqsyabandiyyah, terdapat bagian-bagian ruhani (latha’if insaniyyah) yang digunakan untuk berdzikir, agar tarikan-tarikan tertentu dapat dicapai. Keterangan lebih lengkap silahkan baca Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili, op.cit., hlm.564. Bandingkan juga dengan Dr. Mir Valiuddin, op.cit., hlm.157-210.

[31] Dalam dunia tasawuf dikenal istilah “murid” dan “murod”. Murid diartikan sebagai orang yang menjalani proses spiritual untuk kembali kepada Allah. Sedangkan murod adalah seseorang yang dipilih oleh Allah dan ditakdirkan memiliki kelebihan dalam hal spiritualnya (mistis).

[32] Pada poin ini Martin Lings memaparkan ‘keabadian tasawuf’. Ini bisa dilihat dalam realita tasawuf dimana dalam tarekat yang mu’tabarah terdapat silsilah ajaran tasawuf yang terus tersambung kepada para Kholifah Rosyidah, yang kesemua silsilah ajaran tasawuf itu bersumber dari Nabi. Sehingga pada setiap masa selama pengikut tasawuf itu masih tetap ada, ajaran tasawuf tersebut akan diwariskan pada generasi selanjutnya.

About these ads

About HSR

biasa aja
This entry was posted in Keislaman and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to What is Sufism? (Review)

  1. waway says:

    syukron bgt kk, duhh makasih banget dah
    matur nuhun atas infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s