Pancasila dalam Perspektif Islam

Akhir-akhir ini banyak bermunculan upaya-upaya yang dilakukan baik oleh golongan yang pro maupun yang kontra terhadap keberadaan Pancasila. M. Syafi’i Anwar mengklasifikasikan paradigma pemikiran politik Islam yang berkembang di dunia kaum muslimin, yang masing-masing memiliki pandangan tersendiri tentang Islam sebagai dasar negara Indonesia. Pertama, Substantif-Inklusif, yang memandang dan meyakini bahwa Islam sebagai agama tidak merumuskan konsep-konsep teoritis yang berhubungan dengan politik, apalagi kenegaraan. Kedua, Legal-Eksklusif, yang memandang dan meyakini bahwa Islam bukah hanya agama, tetapi juga sebuah sistem hukum yang lengkap, sebuah ideologi universal dan sistem yang paling sempurna yang mampu memecahkan seluruh permasalahan kehidupan umat manusia.

Dua kelompok besar ini juga tampak secara jelas di negara Indonesia. Satu kelompok yang berupaya keras untuk mempertahankan agar Pancasila tetap menjadi pondasi NKRI, dan kelompok lainnya getol dan rutin selalu mengobarkan semangat tentang konsep negara Islam (dan al-Qur’an) sebagai pilar negara Indonesia. Read more of this post

Fenomena LKS (Lembar Kerja Siswa)

Di suatu hari terjadi sebuah percakapan antara saya dan bapak saya:
Bapak: “Ful…”
Saya: “Dalem romo….” (hee… over mode on, ini cuma tambahan aja.. :))
Bapak: “Adikmu kok gak tau njaluk duwek kanggo tuku buku tulis se…?” (Kenapa adikmu kok nggak pernah minta uang buat beli buku tulis?)
Saya: “Kirangan, menawi panci mboten butuh.” (Tidak tahu, mungkin memang tidak membutuhkan)
Bapak: ”Opo polahe onok LKS iku? Adikmu male ora tau njaluk duwek kanggo tuku buku tulis.” (apa karena ada LKS itu? Adikmu jadi nggak pernah minta uang buat beli buku tulis)
Saya: (diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut)
Bapak: ”Yo’opo jaman saiki iki??? gak koyok biyen, buku pelajarane cacakmu kenek digawe yukmu, buku pelajarane yukmu, kenek digawe mbakmu…” (Bagaimana jaman sekarang ini??? Tidak seperti dulu, buku pelajaran kakakmu, bisa digunakan mbakmu, buku pelajaran mbakmu bisa digunakan mbakmu [yang kedua]) Read more of this post

Akulturasi Kalender Hijriah Dengan Kalender Jawa

Sejarah telah mencatat bahwa peradaban manusia terbentuk melalui rentang waktu dan rentetan peristiwa yang sangat panjang, termasuk di dalamnya para tokoh-tokoh sejarah. Kemajuan peradaban tidak lain merupakan hasil daya cipta, rasa dan karsa manusia itu sendiri yang mengalami gesekan-gesekan kultural. Gesekan-gesekan kultural inilah yang semakin memperkaya kebudayaan itu sendiri. Karena tanpa adanya gesekan kultural niscaya sebuah peradaban akan menjadi stagnan.

Penyebaran agama Islam disamping dilaksanakan melalui cara-cara damai, juga dilakukan melalui ekspansi-ekspansi ke luar wilayah Islam. Model penyebaran ini sangat “mujarab” dalam memperluas wilayah kekuasaan Islam. Model penyebaran Islam melalui ekspansi membawa implikasi positif yang sangat besar, karena tujuan luhur dari ekspansi Islam adalah untuk menyebarkan ajaran Islam yang egaliter, cinta damai, cinta keadilan, dan merupakan rahmat seluruh alam. Model penyebaran Islam melalui ekspansi juga meninggalkan atsar (bekas) bagi wilayah sasaran ekspansi itu sendiri. Baik berupa materi maupun nonmateri. Read more of this post

Kehancuran Baghdad (Serangan Mongol: Jenghis Khan dan Hulagu Khan)

Masa kejayaan Islam telah terukir dalam sejarah. Demikian pula dengan masa kemunduran dan kehancurannya yang tidak mungkin luput dari unsur-unsur sejarah atau historis. Hal ini bisa dilihat dari pengertian sejarah sebagaimana diformulasi-kan oleh Taufik Abdullah adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut[1].

Masa khilafah Abbasiyah dielu-elukan sebagai masa keemasan Islam. Karena pada masa ini kemajuan dalam berbagai bidang sangat pesat. Namun jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan per-adaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumihanguskan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.[2] Read more of this post

Wajah Islam Dalam Diri Imam al-Ghozali

Wajah Islam Dalam Diri Imam al-Ghozali

Imam al-Ghazali, mendengar namanya saja hampir semua orang tahu siapa dia. Dia adalah pencetus ide-ide baru, Sang Pembaharu Islam, Hujjatul Islam, seorang sufi yang banyak disegani oleh ulama-ulama di zamannya karena kedalaman ilmu yang dimilikinya dan paling banyak dianut pemikirannya oleh pemikir-pemikir baru pada masa berikutnya.

Berikut ini sedikit akan dipaparkan tentang siapa Imam al-Ghazali sebenarnya, dan bagaimana perjalanan hidup yang dilaluinya, serta pemikiran-pemikiran dan hasil karyanya.

Siapakah Imam al-Ghozali?

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid al-Ghazali. Dilahirkan pada tahun 450 H/1059 M di Ghazalah suatu kota kecil yang terletak di dekat Thus di Khurasan (Iran). Sebutan al-Ghazali diambil dari kata “Ghazalah” yakni nama kampung kelahiran al-Ghazali. Sebutan tersebut kadang-kadang diucapkan dengan “al-Ghazzali” (dengan dua z) istilah ini berasal dari kata “Ghazzal” artinya tukang pemintal benang sebab pekerjaan ayah al-Ghazali adalah membuat pakaian dari bulu (wol) dan menjualnya di pasar. Read more of this post

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.