Fenomena LKS (Lembar Kerja Siswa)

Di suatu hari terjadi sebuah percakapan antara saya dan bapak saya:
Bapak: “Ful…”
Saya: “Dalem romo….” (hee… over mode on, ini cuma tambahan aja.. :))
Bapak: “Adikmu kok gak tau njaluk duwek kanggo tuku buku tulis se…?” (Kenapa adikmu kok nggak pernah minta uang buat beli buku tulis?)
Saya: “Kirangan, menawi panci mboten butuh.” (Tidak tahu, mungkin memang tidak membutuhkan)
Bapak: ”Opo polahe onok LKS iku? Adikmu male ora tau njaluk duwek kanggo tuku buku tulis.” (apa karena ada LKS itu? Adikmu jadi nggak pernah minta uang buat beli buku tulis)
Saya: (diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut)
Bapak: ”Yo’opo jaman saiki iki??? gak koyok biyen, buku pelajarane cacakmu kenek digawe yukmu, buku pelajarane yukmu, kenek digawe mbakmu…” (Bagaimana jaman sekarang ini??? Tidak seperti dulu, buku pelajaran kakakmu, bisa digunakan mbakmu, buku pelajaran mbakmu bisa digunakan mbakmu [yang kedua])
”Sak jekè onok LKS iki lho, titik-titik mbayar, titik-titik mbayar, saben nem wulan pisan ganti LKS, opo karepe iki???” (Sejak adanya LKS ini, dikit-dikit bayar, dikit-dikit bayar, tiap enam bulan sekali LKS ganti, apa maksudnya ini?”) lanjut bapak.

Inilah sekelumit percakapan yang terjadi antara saya dengan bapak, yang membuat saya diam seribu kata, tanpa berani berargumen (karena khawatir bapak jadi terprovokasi…).

Memang, sejak adanya LKS di sekolah, efektifitas pengajaran guru semakin meningkat. Guru tinggal menerangkan pokok-pokok pembahasan yang ada dalam sebuah bahasan. Guru juga dapat mengembangkan materi dengan materi-materi tambahan yang dibaca oleh guru tersebut (tergantung sejauh mana kreatifitas guru itu).

Dengan adanya LKS, siswa dituntut untuk lebih sering berlatih, berlatih, dan berlatih. Siswa jadi lebih terasah aspek kognitifnya dengan adanya latihan-latihan mandiri yang terdapat di dalam buku LKS.

Di sisi lain, ada kelemahan-kelemahan dengan adanya LKS. Jika seorang guru tidak dapat masuk kelas (dengan berbagai alasannya), guru tinggal telpon atau sms ”Maaf, saya tidak bisa masuk, tolong sampaikan kepada anak kelas…… untuk mengerjakan tugas halaman sekian sampai sekian. Terima kasih”.

Seorang guru yang profesional dan kompeten di bidangnya, ketika mengajar dengan menggunakan LKS dia tidak akan terpaku pada apa yang ada dalam LKS tersebut. Dia akan berusaha menambah dan memperluas wawasan sebagaimana yang telah dicanangkan dalam kurikulum. Namun sebaliknya, guru yang tidak kreatif hanya akan berpegang teguh pada apa yang ada dalam LKS yang dia gunakan, tanpa adanya upaya untuk mengembangkan dan menambah wawasan terhadap materi yang diajarkan. Jika ini terjadi, bagaimana jika kebetulan dalam suatu semester materi guru tersebut tidak ada LKS-nya??? Lha apa gunanya sertifikasi guru profesional itu diadakan???

Jika menengok percakapan antara saya dengan bapak saya di atas. Asumsi yang muncul di masyarakat adalah sekolah itu mahal, sekolah itu butuh biaya yang tidak kecil, sekolah itu bla…bla…bla… dan lain sebagainya. Bapak saya hanya seorang wiraswasta kecil yang sekolah hanya sampai bangku kelas 3 SD, yang memiliki sebuah toko kecil yang menjual tembakau, dan beberapa peralatan keperluan rumah tangga. Dan tentunya dengan penghasilan tiap harinya tidak menentu, sebuah jeritan protes muncul dari bibirnya.

Dalam hati saya membayangkan, bagaimana seandainya protes ini muncul dari para buruh tani, para pekerja pabrik, para kuli bangunan, dan mereka yang penghasilannya di bawah standar UMR. Entah apa opini mereka tentang fenomena LKS ini.

Akhirnya, saya bertanya kepada diri saya dan kawan-kawan yang membaca tulisan saya ini: ”Apakah masih layak LKS tetap digunakan di sekolah-sekolah?”

About HSR

biasa aja
This entry was posted in Pengetahuan Umum and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to Fenomena LKS (Lembar Kerja Siswa)

  1. Lukman says:

    salam… ngampung lewat pak…😀.

    tukeran link pak ya…😉

  2. HSR says:

    Salam juga, ok Luq… ini juga masih tahap belajar ngeblog…

  3. hide says:

    seru abiezzz buat seru2an……

    trims yah Om,,

  4. nina says:

    very nice post. like it.

  5. mutiah says:

    ijin copast ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s